Berawal
dari sms yang sengaja entah tidak, kita dipertemukan dalam ekspedisi yang
menakjubkan! Berawal dari celah tak terduga dari buah manggis dengan janji
menikmati buah durian di Kalibawang. Kau memberikan tawaran menarik. Sms
ajakanmu tidak langsung aku jawab...pura-pura tidak antusias..padahal aku sudah
ingin melompat-lompat kegirangan. Jaim dikitlah....he.he...hingga malam hari
kaupun memimta kepastian untuk mengajakku pergi...dan akupun menyetujuinya.
Bukannya
pergi ke Kalibawang rute ekspedisi kita pun berubah dengan alasan...kalau makan
duren bisa kapan2!!ha.ha...taktik yang luar biasa sebenarnya!!tapi anehnya
akupun hanya bisa menurut ajakanmu untuk pergi ke pantai Baron lanjut ke pantai
Kukup. Hemm....perjalanan di luar dugaan saat kau mengajakku menyusuri bukit
dari pantai Baron hingga Kukup. Medan yang sungguh tidak biasa namun entah energi dalam bentuk apa
yang merasukiku hingga nyeri haid yang biasa aku rasakan saat tiga hari
menstruasi menjadi tidak terasa. Perjalanan nan romantis dan memacu adrenalin
karena kita berada sedekat itu untuk pertama kalinya. Meskipun kau masih
terlihat canggung untuk sekedar menggandeng tanganku atau menawarkan uluran
tangan saat jalanan menurun tapi aku tau...ada berbongkah perasaan yang
membuncah dalam dadamu. Perjalanan sejauh dan seterjal itu terasa begitu
eksotis!!. Apalagi saat kita menemukan pantai Kukup nan indah dengan butiran
pasirnya yang kecoklatan menambah kesan tak terlupakan.
Kala
itu....saat kita duduk di bongkahan batu nan teduh di pinggir pantai menikmati
deburan ombak yang memecah dalam hening. Ingin rasanya aku menyandarkan
kepalaku di bahumu, tapi ada daya perasaan malu mengalahkan segalanya.
Akupun
semakin tidak paham saat kau menjepretkan kamera hape samsung milikmu di
jejak-jejak langkah kita di atas pasir. Apa indahnya objek seperti itu bantinku...
ternyata kau tak ingin melewatkan setiap keping moment dari kebersamaan kita...
dan aku baru menyadarinya saat semakin sering menghabiskan waktu bersamaku....
Hanya sang
waktu yang mampu menjadi saksi akan kebersamaan kita...akankah tetap menghangat
ataukah membeku pada
akhirnya....entahlah....
Tapi satu
yang pasti kau telah mampu membuatku tersadar bahwa mozaik masa lalu bukan
untuk ditangisi..tapi kau mengajarkan aku bahwa pedih, perih, dan nestapa masa
lalu hanya rangkain cerita yang akan membawa kita pada pendewasaan diri dan
perbaikan diri untuk orang yang mencintai kita. Dan akupun mulai setuju saat
aku tak perlu menangis lagi karena aku telah menghanyutkan onggokan rasa usang
yang tak terjamah itu di samudra hindia itu bersamamu.
Dan
kaupun mengajarkan aku bahwa kebahagian itu dapat dirasakan karena kita telah
lebih dulu mengerti bagaimana rasa sakit itu.....
Semoga
Allah memang menuliskan namamu dan namaku di Luhul Mahfuz sana....
Amin......
J




